MUARAENIMONLINE.COM – Di tengah berbagai tantangan global dan nasional, mulai dari efisiensi anggaran hingga tuntutan hemat energi, peran agama kembali diuji: apakah hanya hadir sebagai simbol, atau benar-benar menjadi kekuatan dalam kebijakan dan pelayanan publik. Momentum bulan Syawal 1447 H yang beriringan dengan pelaksanaan MTQ Tingkat Kabupaten Muara Enim di Semende Tanggal 5–11 April 2026 dinilai menjadi titik penting untuk menjawab hal tersebut.
Ketua PCNU Muara Enim, Gus Amu (Ahmad Mujtaba), menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini agama tidak boleh hanya berhenti pada seremoni, tetapi harus menjadi landasan moral dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam tata kelola pemerintahan.
“Dalam situasi hari ini, agama tidak boleh hanya menjadi simbol. Agama sangat dibutuhkan sebagai landasan dalam menjaga integritas, kejujuran, keterbukaan dan keberpihakan kepada rakyat,” tegasnya.
Menurutnya, bulan Syawal merupakan momentum kembali kepada fitrah yang harus dimaknai dengan penguatan nilai integritas, transparansi, keadilan, dan kepedulian sosial. Sementara MTQ tidak hanya menjadi ajang tilawah Al-Qur’an, tetapi juga harus mampu mendorong pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata, termasuk dalam pelayanan publik.
Pelaksanaan MTQ di Semende dinilai memiliki makna strategis. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu daerah di Kabupaten Muara Enim yang masyarakatnya kuat dalam religiusitas serta tetap memegang teguh adat istiadat, sehingga menjadi contoh nyata harmoni antara nilai agama dan budaya lokal.
Sebagai bagian dari Sumatera Selatan dengan berlandaskan Pancasila, Kabupaten Muara Enim tidak cukup hanya dikenal sebagai daerah yang religius secara simbolik, tetapi harus mampu membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan benar-benar hidup dalam tata kelola pemerintahan yang profesional, bersih, adil, dan transparan, serta nyata dalam menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas dan berpihak kepada kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan semangat Muara Enim Bangkit Rakyat Sejahtera (Membara).
Gus Amu juga mengajak seluruh jajaran birokrasi, pegawai, dan masyarakat untuk menjadikan momentum Syawal dan MTQ ini sebagai sumber motivasi dalam meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat.
“Semangat Syawal dan MTQ harus menjadi energi baru bagi aparatur pemerintah untuk bekerja lebih jujur, lebih adil, dan lebih berpihak kepada rakyat. Inilah wujud konkret dari Muara Enim Bangkit dan Rakyat Sejahtera,” ujarnya.
Ia menambahkan, ukuran keberhasilan tidak terletak pada kemeriahan kegiatan, tetapi pada sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi semua elemen di bumi Serasan sekundang.
“Jangan biarkan agama berhenti pada seremoni. Agama harus hidup dalam kebijakan, dalam pelayanan, dan dalam keberpihakan kepada rakyat,” pungkasnya.
Momentum Syawal dan MTQ di Semende diharapkan menjadi titik tolak penguatan moral, peningkatan kinerja, serta persatuan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, demi terwujudnya Muara Enim yang religius, berintegritas, dan sejahtera dalam bingkai Bumi Serasan Sekundang.













