Suku Belida, Penjaga Sungai dan Tradisi di Tepian Musi

Oleh : Marshal ( Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat )

MUARAENIMONLINE.COM – Lagi di tepian anak Sungai Musi itu selalu datang dengan suara air yang tenang. Di sanalah, jejak Suku Belida bermula. Bukan dari istana atau tembok batu, melainkan dari aliran sungai yang menghidupi, mengajari, dan membentuk cara pandang hidup sebuah komunitas kecil di Sumatera Selatan.

Bagi masyarakat Belida, sungai bukan sekadar bentang alam. Sungai adalah halaman depan rumah, ruang bermain anak-anak, jalur silaturahmi, sekaligus tempat leluhur mereka bertahan hidup. Dari sungai pula, nama Belida lahir—terinspirasi dari ikan belida yang dahulu melimpah dan menjadi penanda wilayah hunian mereka.

Hari ini, sebagian sungai itu memang tak lagi seramai dulu. Namun ingatan kolektif tentang air, ikan, dan perahu masih hidup di dalam cerita-cerita orang tua yang dituturkan pada senja hari.

Baca Juga  Kades Gerinam Indra Yosep : Sukseskan Bimtek SDGs

Bahasa yang Mulai Pelan Menghilang
Di Kecamatan Gelumbang, Lembak, Sungai Rotan, Belida, hingga Cambai, Suku Belida hidup berdampingan dengan masyarakat lain. Secara bahasa, mereka termasuk rumpun Melayu, dengan dialek khas yang lembut dan berirama pelan.

Namun kini, bahasa Belida asli semakin jarang terdengar. Anak-anak lebih fasih berbahasa Melayu Palembang, bahasa yang dominan di ruang sekolah dan pergaulan. Bahasa Belida perlahan bergeser—bukan karena ditinggalkan, tetapi karena zaman menuntut penyesuaian.

Sedekah Apem: Doa yang Dimasak Bersama
Yang tetap bertahan dengan kuat adalah tradisi. Salah satunya sedekah apem, ritual adat yang mengajarkan kebersamaan sejak dari dapur. Setiap keluarga memasak apem kuah, bukan untuk dijual atau dipamerkan, melainkan untuk dikumpulkan bersama di balai desa.

Saat doa bersama dibacakan, tak ada sekat status sosial. Semua duduk sejajar, menengadahkan tangan, mengucap syukur kepada Allah SWT. Setelah itu, apem dibagikan dan disantap bersama. Rasanya sederhana, tapi maknanya dalam: rezeki akan terasa cukup bila dibagi.
Ketupat dan Simbol Harapan di Pintu Rumah

Baca Juga  Penyerahan Bonus Dan Pembubaran Kontingen Porprov Kabupaten Muara Enim

Dalam sedekah ketupat, warga membuat ketupat dari daun rumbai atau pandan dengan bentuk beragam. Tak ada bentuk yang paling benar. Semua diterima, sebagaimana perbedaan dalam hidup bermasyarakat.

Usai dimakan bersama, kulit ketupat tidak dibuang. Ia digantungkan di pintu rumah. Bagi Suku Belida, itu bukan hiasan, melainkan simbol doa—harapan agar rumah selalu diberi berkah, dijauhkan dari marabahaya, dan dikuatkan rasa persaudaraan.

Lemang dan Silaturahmi Menjelang Ramadhan sebulan sebelum Ramadhan, aroma asap bambu menyebar di desa. Itulah tanda sedekah lemang dimulai. Lemang dimasak berjam-jam, dijaga bersama, sambil berbincang tentang keluarga, ladang, dan kehidupan.

Tak ada kewajiban. Siapa yang mampu membuat, membuat. Siapa yang tidak, tetap datang dan disambut. Lemang kemudian dimakan bersama, menjadi pembuka silaturahmi dan penanda kesiapan batin menyambut bulan suci.

Baca Juga  Pemilihan Ketua Pokja PKK Talang Taling Penuh Kebersamaan

Bertahan di Tengah Perubahan
Suku Belida memang tidak ramai diberitakan. Mereka tak berteriak, tak menuntut perhatian. Tetapi dalam kesederhanaan itulah, nilai-nilai penting bangsa dijaga: gotong royong, rasa syukur, dan hormat pada alam.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Suku Belida berdiri sebagai pengingat bahwa Indonesia dibangun dari komunitas-komunitas kecil yang setia pada akar budaya. Selama sungai masih dikenang, doa masih dibaca bersama, dan makanan masih dibagi tanpa pamrih, Suku Belida akan tetap hidup—meski pelan, namun berakar kuat.(jj.red)

iklan

iklan

Iklan

Iklan

Iklan Kosan