MUARAENIMONLINE.COM – Zikir setelah salat merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW senantiasa mengiringi salat fardu dengan berbagai bacaan zikir dan doa sebagai penyempurna ibadah sekaligus ungkapan syukur kepada Allah SWT.
Di antara waktu yang memiliki keistimewaan adalah setelah salat Subuh dan Maghrib. Pada kedua waktu tersebut terdapat beberapa bacaan zikir yang secara khusus disebutkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW dengan keutamaan yang besar. Selain menjadi amalan yang berpahala, zikir juga dipahami sebagai sarana memperkuat keimanan serta memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT.
Selain menjaga bacaan, Islam juga mengajarkan adab dalam berzikir. Ketika salat dilakukan secara berjamaah, makmum dianjurkan mengikuti imam hingga rangkaian zikir awal selesai sebagai bentuk kesempurnaan adab berjamaah.
Adab Berzikir Setelah Salam
Setelah mengucapkan salam, imam dan makmum tetap menghadap kiblat serta mempertahankan posisi duduk sebagaimana ketika tasyahud. Makmum mengikuti bacaan imam hingga selesai zikir awal. Setelah imam menyelesaikan bacaan tersebut dan mengubah posisi duduknya, barulah makmum mengikutinya, kemudian zikir dapat dilanjutkan sesuai kebiasaan yang berlaku di masjid.
1. Istighfar (Dibaca 3 Kali)
Arab
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Latin
Astaghfirullāhal-‘Aẓīm alladzī lā ilāha illā Huwal-Ḥayyul-Qayyūm wa atūbu ilaih.
Arti
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya. Kepada-Nya aku bertobat.”
Dasar Hadis
Dalam hadis sahih riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW beristighfar sebanyak tiga kali setelah setiap salat fardu.
Perlu diketahui bahwa lafaz yang secara eksplisit disebutkan dalam riwayat tersebut adalah “Astaghfirullāh” sebanyak tiga kali. Adapun lafaz istighfar yang lebih panjang di atas merupakan doa istighfar yang juga bersumber dari hadis sahih, meskipun bukan redaksi khusus yang disebutkan Nabi SAW setelah salat.
2. Zikir Kalimat Tauhid (Dibaca 10 Kali)
Arab
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Latin
Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, yuḥyī wa yumītu, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
Arti
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian. Dialah Yang menghidupkan dan mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Keutamaan Berdasarkan Hadis
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang membaca zikir ini sepuluh kali setelah salat Subuh dan Maghrib, maka Allah SWT menganugerahkan berbagai keutamaan, antara lain:
- Dituliskan sepuluh kebaikan.
- Dihapuskan sepuluh keburukan.
- Diangkat sepuluh derajat.
- Dibebaskan dari berbagai keburukan.
- Mendapat perlindungan dari gangguan setan hingga pagi atau petang.
- Menjadi sebab keselamatan dari berbagai kebinasaan selama tidak melakukan dosa syirik kepada Allah.
Keutamaan tersebut disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi serta dinilai hasan oleh sejumlah ulama.
3. Doa Memohon Perlindungan dari Api Neraka (Dibaca 7 Kali)
Arab
اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ
Apabila dibaca bersama jamaah dapat menggunakan:
اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ
Latin
Allāhumma ajirnī minan-nār.
atau
Allāhumma ajirnā minan-nār.
Arti
“Ya Allah, lindungilah aku (kami) dari api neraka.”
Keutamaan Berdasarkan Hadis
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang membaca doa ini tujuh kali setelah salat Subuh dan tujuh kali setelah salat Maghrib, kemudian meninggal dunia pada hari atau malam itu, maka Allah SWT akan mencatatnya sebagai orang yang dibebaskan dari api neraka.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan An-Nasa’i.
4. Doa Keselamatan
Arab
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
Latin
Allāhumma antas-salām, wa minkas-salām, wa ilaika ya’ūdus-salām. Faḥayyinā Rabbanā bis-salām, wa adkhilnal-jannata dāras-salām. Tabārakta Rabbanā wa ta’ālayta, yā Dzal-Jalāli wal-Ikrām.
Arti
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera. Dari-Mulah segala keselamatan dan kepada-Mulah kembali segala keselamatan. Maka hidupkanlah kami dalam keselamatan, wahai Tuhan kami. Masukkanlah kami ke dalam surga, negeri keselamatan. Mahaberkah dan Mahatinggi Engkau, wahai Tuhan kami, Pemilik keagungan dan kemuliaan.”
Dasar Hadis
Lafaz yang paling sahih berdasarkan riwayat Muslim adalah:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Adapun lafaz yang lebih panjang merupakan doa yang telah dikenal luas dan diamalkan oleh sebagian ulama dalam tradisi zikir berjamaah.
Menjaga Adab Mengikuti Imam
Adab mengikuti imam tidak berhenti ketika salam diucapkan. Selama imam masih memimpin zikir awal dan belum mengubah posisi duduknya, makmum tetap mengikuti bacaan imam dengan tertib dan khusyuk.
Setelah imam menyelesaikan doa keselamatan dan mengubah posisi duduknya, barulah makmum mengikutinya. Adab ini mencerminkan ketundukan terhadap tuntunan berjamaah, menjaga kekompakan saf, serta menunjukkan penghormatan kepada imam sebagai pemimpin ibadah.
Hakikat zikir tidak hanya terletak pada banyaknya bacaan, tetapi juga pada kehadiran hati, keikhlasan, dan penghayatan terhadap makna setiap kalimat yang diucapkan. Zikir yang diajarkan Rasulullah SAW merupakan warisan spiritual yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya melalui istighfar, penguatan tauhid, permohonan keselamatan, serta harapan memperoleh perlindungan dari api neraka.
Pada saat yang sama, umat Islam perlu memahami bahwa terdapat bacaan yang secara tegas berasal dari hadis sahih setelah salat, sementara sebagian doa lainnya merupakan amalan yang berkembang dalam tradisi ulama. Perbedaan tersebut hendaknya disikapi dengan ilmu, sikap saling menghormati, dan menghindari saling menyalahkan.
Pada akhirnya, zikir setelah salat bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan sarana menyucikan jiwa, memperkokoh keimanan, dan menghadirkan ketenangan hati. Sebab, hati yang senantiasa mengingat Allah akan memperoleh ketenteraman, sebagaimana firman Allah SWT:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
(jj.red)













