- Penulis: Zainul Marzadi, SH,. MH – Dosen Universitas Serasan
MUARAENIMONLINE.COM – Hari Olahraga Nasional (Haornas) diperingati setiap tanggal 9 September untuk mengenang sejarah dan pentingnya olahraga dalam membangun kesehatan, semangat, dan persatuan bangsa. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berolahraga dan menumbuhkan semangat olahraga di kalangan masyarakat.
Semboyan olahraga yang populer adalah “Mens Sana in Corpore Sano” yang berarti “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Semboyan ini menekankan pentingnya kesehatan fisik dan mental dalam mencapai keseimbangan hidup yang optimal.
Semboyan ini menekankan pentingnya kesehatan fisik dan mental dalam mencapai keseimbangan hidup yang optimal. Frase ini berasal dari satir karya Juvenal, seorang penyair Romawi, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara tubuh dan pikiran (Juvenal).
Selain itu, ada juga semboyan olahraga lainnya seperti:
1. “Citius, Altius, Fortius” yang berarti “Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat” dan digunakan sebagai semboyan Olimpiade. Semboyan ini diperkenalkan oleh Pierre de Coubertin, pendiri Olimpiade modern, dan telah menjadi simbol semangat olahraga Olimpiade (International Olympic Committee).
2. “Sportivitas adalah Jiwa yang Kuat” yang menekankan pentingnya sportivitas dan jiwa yang kuat dalam berolahraga. menekankan pentingnya sportivitas dan jiwa yang kuat dalam berolahraga. Meskipun tidak ada sumber langsung yang spesifik untuk semboyan ini, konsep sportivitas sangat penting dalam dunia olahraga dan sering ditekankan dalam berbagai konteks (Coakley).
Sejarah Hari Olahraga Nasional
PON I digelar karena pada saat itu atlet Indonesia tidak dapat ikut serta dalam Olimpiade XIV/1948 di London, Inggris. Hal ini disebabkan Indonesia belum memperoleh pengakuan internasional, sehingga paspor yang dimiliki tidak diakui oleh Pemerintah Inggris.
Sebagai gantinya, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) mengambil inisiatif untuk mengadakan kompetisi olahraga dalam negeri yang kemudian dikenal sebagai Pekan Olahraga Nasional. Ajang ini mendapat sambutan meriah dengan keikutsertaan sekitar 600 atlet yang berlaga di 9 ( Sembilan ) cabang olahraga.
Tiga puluh tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 7 September 1985, Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden No. 67tahun 1985 menetapkan tanggal pembukaan PON I sebagai Hari Olahraga Nasional yang diperingati setiap tahun.
Haornas dimulai dari penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama pada 9-12 September 1948 di Solo, Jawa Tengah. PON pertama ini menjadi momentum penting dalam perjalanan olahraga Indonesia dan bukti bahwa Indonesia mampu menyelenggarakan acara olahraga nasional dengan semangat persatuan dan sportivitas.
Tujuan Haornas antara lain :
1. Menumbuhkan semangat olahraga di masyarakat
Peringatan Hari Olahraga Nasional mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Dengan begitu, olahraga tidak hanya dipandang sebagai aktivitas kompetisi, tetapi juga sebagai gaya hidup sehat yang bermanfaat untuk jangka panjang.
2. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kebugaran
Haornas menjadi pengingat bahwa tubuh yang sehat merupakan modal utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Melalui olahraga yang teratur, masyarakat diharapkan mampu menjaga kebugaran, meningkatkan imunitas, serta mengurangi risiko penyakit.
3. Membentuk karakter positif
Olahraga mengajarkan banyak nilai kehidupan, seperti disiplin, kerja keras, sportivitas, dan pantang menyerah. Nilai-nilai ini diharapkan bisa tertanam dalam diri masyarakat, khususnya generasi muda, agar memiliki mental yang kuat dan siap menghadapi tantangan.
4. Mempererat persatuan dan kebersamaan Melalui berbagai kegiatan olahraga, masyarakat dari beragam latar belakang dapat berkumpul, berinteraksi, dan bekerja sama. Haornas menjadi wadah untuk memperkuat rasa persatuan bangsa, karena olahraga mampu menyatukan tanpa memandang suku, agama, ataupun status sosial.
5. Mendorong prestasi olahraga nasional
Momentum ini juga menjadi dorongan bagi para atlet untuk terus berlatih dan berprestasi, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Haornas diharapkan bisa melahirkan lebih banyak talenta olahraga yang mampu mengharumkan nama Indonesia di dunia.
6. Menghargai sejarah olahraga Indonesia. Haornas sekaligus mengingatkan masyarakat akan peristiwa bersejarah, yaitu penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional pertama pada tahun 1948 di Solo. Peringatan ini menjadi simbol perjuangan bangsa dalam mempertahankan eksistensi olahraga di tengah keterbatasan dan situasi sulit pada masa itu.
Kegiatan Memperingati Hari Olahraga Nasional
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk memperingati Haornas adalah :
1. Senam Bersama: Mengadakan senam pagi yang melibatkan seluruh siswa, guru, atau warga sekolah.
2. Lomba Olahraga: Menyelenggarakan pertandingan cabang olahraga populer seperti futsal, voli, basket, atau badminton.
3. Permainan Tradisional: Menghadirkan lomba tradisional seperti gobak sodor, tarik tambang, atau bakiak.
4. Jalan Sehat: Melibatkan seluruh siswa, guru, dan staf sekolah untuk berpartisipasi dalam kegiatan jalan sehat bersama.
Marilah Bergabung di Pendidikan Kepelatihan Olah Raga (PKO) Universitas Serasan Muara Enim ( Dengan Ilmu Berolahraga menjadi sempurna )
Kesimpulan
Hari Olahraga Nasional (Haornas) memiliki makna penting dalam meningkatkan kesadaran dan semangat berolahraga di Indonesia. Dengan peringatan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih aktif bergerak dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Selain itu, Haornas juga menjadi momentum untuk menghargai sejarah olahraga Indonesia dan melahirkan lebih banyak talenta olahraga yang mampu mengharumkan nama Indonesia di dunia.
Referensi :
1. https://presmada.com/hari-olahraga-nasional-2025-sejarah-kegiatan-di-sekolah/
2. Coakley, Jay J. Sport in Society: Issues and Controversies. McGraw-Hill, 2015.
3. International Olympic Committee. “Olympic Values.” (tautan tidak tersedia), (tautan tidak tersedia).
4. Juvenal. The Satires. Diterjemahkan oleh Niall Rudd, Oxford University Press, 1992.
Catatan: Redaksi menerima dalam bentuk tulisan, terkait isi merupakan tanggung jawab penulis







