Analisa Banjir di kota Prabumulih

Penulis: Zainul Marzadi, SH,. MH

  • Penulis: Zainul Marzadi,SH.,MH – PSM dan Dosen Penelitian Hukum Lingkungan Universitas Serasan

MUARAENIMONLINE.COM – Banjir tidak hanya sekadar akibat hujan deras. Beberapa faktor utama yang menyebabkan banjir termasuk perubahan tata guna lahan, saluran drainase yang tidak memadai, dan pembangunan yang kurang terencana. Penggalian lahan yang tidak terkendali dan deforestasi juga menjadi pemicu serius. Oleh karena itu, langkah-langkah preventif harus merangkul perubahan sosial dan infrastruktur untuk memitigasi risiko.

Data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) dari stasiun BMKG menunjukkan bahwa intensitas hujan bervariasi antar daerah, dengan wilayah Indonesia Timur mencatat curah hujan yang paling tinggi. Kondisi geografis berupa pegunungan, hutan hujan, dan iklim tropis basah membuat kawasan ini lebih rentan terhadap hujan lebat dan banjir.

Peristiwa banjir di Sumatra 2025 kembali mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang bencana hidrometeorologi.

Analisis mengenai banjir yang sering terjadi di Kota Prabumulih menunjukkan bahwa bencana ini disebabkan oleh interaksi kompleks antara faktor alam (klimatologis dan hidrologis) dan faktor non-alam (aktivitas manusia dan infrastruktur).

Berikut adalah uraian analisis faktor-faktor penyebab banjir di Kota Prabumulih dan dampaknya:
I. Faktor Penyebab Utama Banjir Prabumulih
Berdasarkan data dan laporan kejadian, faktor-faktor yang menjadi pemicu utama banjir di Prabumulih dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Faktor Hidrologis dan Klimatologis (Faktor Alam)
1) Curah Hujan Ekstrem: Curah hujan dengan intensitas tinggi dan terjadi dalam durasi yang panjang (hujan deras selama beberapa jam hingga sehari semalam) sering menjadi pemicu langsung. Meskipun curah hujan tidak selalu melebihi batas maksimum historis, namun intensitasnya dalam periode waktu tertentu (misalnya, per pentad atau per hari) dapat dikategorikan ekstrem dan melebihi ambang batas aman.

2) Banjir Kiriman (Meluapnya Sungai Lematang): Prabumulih sangat rentan terhadap banjir kiriman. Kelurahan seperti Payuputat, yang berbatasan dengan DAS Lematang, sering terendam karena air Sungai Lematang meluap. Luapan ini disebabkan oleh tingginya debit air dari wilayah hulu (misalnya, Kabupaten Muara Enim dan Lahat) yang juga dilanda hujan lebat, sehingga air mengalir ke hilir dan membebani Prabumulih.

3) Kapasitas Sungai Tidak Memadai: Beberapa sungai utama yang melintasi Prabumulih, seperti Sungai Kelekar, dilaporkan tidak mampu menampung debit air yang tinggi. Ini mengindikasikan bahwa kapasitas tampung sungai (termasuk anak-anak sungai) telah menurun. Evaluasi Struktur Sungai
Ketika kita berbicara tentang mitigasi banjir, struktur sungai menjadi poin kritis. Melalui evaluasi yang cermat, kita dapat menilai kelayakan dan keefektifan sungai sebagai saluran alami.

Pengerukan, pemeliharaan sungai, dan pembangunan bendungan yang bijaksana dapat memberikan solusi berkelanjutan. Pemahaman yang holistik terhadap ekosistem sungai juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan alam.

2. Faktor Tata Ruang dan Lingkungan (Faktor Non-Alam/Manusia)
1) Degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kelekar: Penelitian menunjukkan bahwa sistem DAS Kelekar sudah terganggu.
a. Erosi Tanah: Aktivitas pengolahan tanah (terutama pada perkebunan karet yang baru dibuka) di daerah hulu dapat meningkatkan laju erosi, yang kemudian membawa sedimen dan lumpur masuk ke badan sungai.

Baca Juga  Edison Sumarni Menjadi Bupati dan Wakil Bupati Muara Enim, Eka Ochta Reza: Selamat Atas Amanahnya

b. Penyempitan Sungai: Adanya permukiman penduduk, industri (seperti perminyakan), dan aktivitas pertanian di sepanjang bantaran sungai menyebabkan badan sungai menyempit dan kedalamannya berkurang (pendangkalan/sedimentasi).

2) Masalah Drainase Perkotaan: Di area permukiman padat (seperti Kelurahan Tugu Kecil dan sekitarnya), penyebab utama banjir adalah sistem drainase yang tersumbat, saluran yang kecil, dan tidak pernah diperbaiki.
a. Sampah dan sedimen menumpuk di saluran, menghambat aliran air, sehingga air meluap ke jalan dan rumah warga setiap kali hujan deras.
Analisis Pola Hujan dan Drainase
Menganalisis pola hujan dan drainase adalah langkah penting untuk memahami bagaimana air mengalir dan mengumpul.

Hujan yang ekstrem dapat mengakibatkan genangan air yang cepat, sementara sistem drainase yang tidak memadai dapat memperparah situasi. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap pola ini, kita dapat merancang solusi yang efektif dan sesuai konteks.

3) Berkurangnya Tutupan Pohon: Pengurangan tutupan vegetasi (deforestasi) di wilayah hulu atau sekitarnya mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air, sehingga mempercepat laju air permukaan (limpasan) yang menuju sungai.

II. Lokasi Rawan Banjir di Prabumulih
Banjir di Prabumulih cenderung terjadi di beberapa area yang memiliki kondisi geografis dan infrastruktur spesifik:
1. Daerah Hilir Sungai Lematang:
o Kelurahan Payuputat (Kecamatan Prabumulih Barat): Paling rentan terhadap banjir kiriman dari Lematang.
2. Sepanjang Aliran Sungai Kelekar:
o Kelurahan Karang Raja: Sering dilanda banjir tahunan karena luapan Kelekar.
3. Area Padat Penduduk dengan Drainase Buruk:
1) Kelurahan Tugu Kecil
2) Kelurahan Majasari,
3) Prumnas III dan IV Kelurahan Gunung Ibul Kecamatan Prabumulih Timur (termasuk Kelurahan Palam, Besmah Serasan, dan Mekar Jaya).
4) Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Prabumulih Selatan terdampak akibat meluapnya Sungai Manau
III. Upaya Mitigasi dan Penanggulangan
Pemerintah Kota Prabumulih telah dan sedang mengupayakan penanggulangan banjir melalui langkah-langkah struktural maupun non-struktural:
Kategori Upaya Penanggulangan Tujuan
Struktural Pembangunan Kolam Retensi Menyediakan tempat penampungan air sementara saat debit sungai/drainase tinggi untuk mengurangi luapan ke pemukiman.

Normalisasi dan Pengerukan Sungai Meningkatkan kapasitas tampung Sungai Kelekar dan sungai-sungai lainnya, serta membersihkan endapan sedimen.
Perbaikan Drainase Pelebaran dan perbaikan saluran air perkotaan yang sempit dan tersumbat.

Non-Struktural Edukasi dan Sosialisasi BPBD Meningkatkan kesiapsiagaan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan (contoh: tidak membuang sampah ke sungai).

Gerakan Kasih (Gerakan Pelestarian Kali Bersih) Pembersihan rutin aliran sungai dari sampah oleh pemerintah dan masyarakat.

Model Pemetaan Banjir (HEC-RAS) Memetakan area tergenang untuk perencanaan tata ruang yang lebih baik dan penentuan lokasi prioritas mitigasi.

Analisis mengenai banjir yang sering terjadi di Kota Prabumulih menunjukkan bahwa bencana ini disebabkan oleh interaksi kompleks antara faktor alam (klimatologis dan hidrologis) dan faktor non-alam (aktivitas manusia dan infrastruktur).

Baca Juga  KHUTBAH WADA: PIAGAM KEMANUSIAAN DAN NEGARA HUKUM YANG TERLUPAKAN

Berikut adalah uraian analisis faktor-faktor penyebab banjir di Kota Prabumulih dan dampaknya:

🌧️ I. Faktor Penyebab Utama Banjir Prabumulih
Berdasarkan data dan laporan kejadian, faktor-faktor yang menjadi pemicu utama banjir di Prabumulih dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Faktor Hidrologis dan Klimatologis (Faktor Alam)
• Curah Hujan Ekstrem: Curah hujan dengan intensitas tinggi dan terjadi dalam durasi yang panjang (hujan deras selama beberapa jam hingga sehari semalam) sering menjadi pemicu langsung. Meskipun curah hujan tidak selalu melebihi batas maksimum historis, namun intensitasnya dalam periode waktu tertentu (misalnya, per pentad atau per hari) dapat dikategorikan ekstrem dan melebihi ambang batas aman.
• Banjir Kiriman (Meluapnya Sungai Lematang): Prabumulih sangat rentan terhadap banjir kiriman. Kelurahan seperti Payuputat, yang berbatasan dengan DAS Lematang, sering terendam karena air Sungai Lematang meluap. Luapan ini disebabkan oleh tingginya debit air dari wilayah hulu (misalnya, Kabupaten Muara Enim dan Lahat) yang juga dilanda hujan lebat, sehingga air mengalir ke hilir dan membebani Prabumulih.
• Kapasitas Sungai Tidak Memadai: Beberapa sungai utama yang melintasi Prabumulih, seperti Sungai Kelekar, dilaporkan tidak mampu menampung debit air yang tinggi. Ini mengindikasikan bahwa kapasitas tampung sungai (termasuk anak-anak sungai) telah menurun.
2. Faktor Tata Ruang dan Lingkungan (Faktor Non-Alam/Manusia)
• Degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kelekar: Penelitian menunjukkan bahwa sistem DAS Kelekar sudah terganggu.
o Erosi Tanah: Aktivitas pengolahan tanah (terutama pada perkebunan karet yang baru dibuka) di daerah hulu dapat meningkatkan laju erosi, yang kemudian membawa sedimen dan lumpur masuk ke badan sungai.
o Penyempitan Sungai: Adanya permukiman penduduk, industri (seperti perminyakan), dan aktivitas pertanian di sepanjang bantaran sungai menyebabkan badan sungai menyempit dan kedalamannya berkurang (pendangkalan/sedimentasi).
• Masalah Drainase Perkotaan: Di area permukiman padat (seperti Kelurahan Tugu Kecil dan sekitarnya), penyebab utama banjir adalah sistem drainase yang tersumbat, saluran yang kecil, dan tidak pernah diperbaiki.
o Sampah dan sedimen menumpuk di saluran, menghambat aliran air, sehingga air meluap ke jalan dan rumah warga setiap kali hujan deras.
• Berkurangnya Tutupan Pohon: Pengurangan tutupan vegetasi (deforestasi) di wilayah hulu atau sekitarnya mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air, sehingga mempercepat laju air permukaan (limpasan) yang menuju sungai.

📍 II. Lokasi Rawan Banjir di Prabumulih
Banjir di Prabumulih cenderung terjadi di beberapa area yang memiliki kondisi geografis dan infrastruktur spesifik:
1. Daerah Hilir Sungai Lematang:
o Kelurahan Payuputat (Kecamatan Prabumulih Barat): Paling rentan terhadap banjir kiriman dari Lematang.
2. Sepanjang Aliran Sungai Kelekar:
1. Kelurahan Suka Raja.
2. Kelurahan Karang Raja:
3. Kelurahan Muara Dua
4. Kelurahan Gunung ibul
o Sering dilanda banjir tahunan karena luapan Kelekar.
3. Area Padat Penduduk dengan Drainase Buruk:
1. Kelurahan Tugu Kecil
2. Kelurahan Majasari, Sukaraja, Mangga Besar
3. Prumnas III dan IV Kelurahan Gunung Ibul
4. Kecamatan Prabumulih Timur (termasuk Kelurahan Palam, Besmah Serasan, dan Mekar Jaya).

Baca Juga  Tancap Gas! Polres Muara Enim Tanam Jagung di Padang Bindu Benakat

📈 III. Upaya Mitigasi dan Penanggulangan
Pemerintah Kota Prabumulih telah dan sedang mengupayakan penanggulangan banjir melalui langkah-langkah struktural maupun non-struktural:
Kategori Upaya Penanggulangan Tujuan
Struktural Pembangunan Kolam Retensi Menyediakan tempat penampungan air sementara saat debit sungai/drainase tinggi untuk mengurangi luapan ke pemukiman.
Normalisasi dan Pengerukan Sungai Meningkatkan kapasitas tampung Sungai Kelekar dan sungai-sungai lainnya, serta membersihkan endapan sedimen.
Perbaikan Drainase Pelebaran dan perbaikan saluran air perkotaan yang sempit dan tersumbat.
Non-Struktural Edukasi dan Sosialisasi BPBD Meningkatkan kesiapsiagaan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan (contoh: tidak membuang sampah ke sungai).
Gerakan Kasih (Gerakan Pelestarian Kali Bersih) Pembersihan rutin aliran sungai dari sampah oleh pemerintah dan masyarakat.
Model Pemetaan Banjir (HEC-RAS) Memetakan area tergenang untuk perencanaan tata ruang yang lebih baik dan penentuan lokasi prioritas mitigasi.

Restorasi Lingkungan Pasca-Banjir
Setelah air surut, tantangan sebenarnya baru dimulai. Restorasi lingkungan pasca-banjir tidak hanya tentang membersihkan sampah fisik, tetapi juga tentang mengembalikan keanekaragaman hayati dan kestabilan ekosistem. Tanaman yang hilang perlu ditanam kembali, habitat perlu direvitalisasi, dan kualitas tanah perlu dipulihkan. Inisiatif ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga konservasi untuk memastikan keberhasilan dalam jangka panjang.
Infrastruktur Anti-Banjir
Investasi dalam Infrastruktur Anti-Banjir yang solid menjadi langkah strategis. Bendungan, saluran air, dan sistem drainase yang baik dapat meminimalkan risiko banjir. Penataan kota yang bijaksana dengan mempertimbangkan elevasi tanah dan pola aliran air juga turut berkontribusi dalam menanggulangi banjir secara efisien.
Peran Masyarakat dalam Mitigasi Banjir
Peran aktif masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam menghadapi risiko banjir. Pendidikan dan kesadaran masyarakat mengenai perilaku yang berkontribusi pada banjir, seperti pembuangan sampah sembarangan, sangat penting. Melibatkan masyarakat dalam perencanaan mitigasi dan memberikan pelatihan untuk bertindak dalam situasi darurat dapat meningkatkan kapasitas tanggap mereka.

Kesimpulan Analisis:
Banjir di Kota Prabumulih adalah masalah berulang yang disebabkan oleh gabungan curah hujan ekstrem dan banjir kiriman dari hulu (faktor alam) yang diperburuk oleh penyempitan dan pendangkalan sungai, serta buruknya sistem drainase perkotaan (faktor manusia). Solusi jangka panjang memerlukan intervensi struktural yang masif (seperti pembangunan kolam retensi) dan peningkatan tata kelola lingkungan di wilayah DAS.

Refrensi ;
1. https://www.cnbcindonesia.com/research/20251202122220-128-690308/sederet-banjir-terparah-yang-melanda-ri-sumatera-masuk
2. Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com /Akhir tahun 2025 Curah hujan di Indonesia sangat tinggi akan bedampak .
3. https://tekniksipil.id/analisis-risiko-dan-strategi-mitigasi-bencana-banjir

Catatan: Redaksi menerima dalam bentuk tulisan, terkait isi merupakan tanggung jawab penulis

iklan

iklan

Iklan

Iklan

Iklan Kosan